pengkhianatyangtelahmusnah

Saturday, June 18, 2005

Tuhan Memberikan Senyuman Itu Di Wajahmu
Kemana kita kan pergi, tak bakal ada orang tahu
Aku telah katakan, jalanku telah jatuh
Tuhan telah memberiku jalan, memberiku rahmat
Tuhan telah menaruh senyum diwajahku
Kemana kita kan pergi untuk menentukan batas?
Aku telah katakan,
Aku telah menyia-nyiakan semua waktumu, semua waktuku, sayang
Kemana aku kan pergi mencari ?
Tuhan telah menaruh senyuman di wajahmu
Dan, ketika kamu pergi aku lebih buruk darimu
Ya, ketika kamu pergi aku pun ingin
Kapan kamu membuat rencana untuk menentukan batas
Terkaanmu adalah ranjau bagiku
Di mana kita pergi, tidak ada orang mengetahui
angan pernah katakan kamu akan jatuh
Tuhan memberi kamu gaya dan memberi kamu rahmat
Tuhan menaruh suatu senyuman wajah mu
Dan, ketika kamu pergi aku lebih buruk darimu
Ya, ketika kamu pergi aku pun ingin
Kapan kamu membuat rencana untuk menentukan batas
Terkaanmu adalah ranjau bagiku
Suara-Suara Nyaman
Tak suatu pun terasa baik
Meskipun dalam suara-suara yang nyaman
Yang bunga-bunga lili buat
Tak ada suatu pun yang terasa baik
Sebab taman-taman yang telah berjanji
Tapi mereka batalkan
Mengapa tidak dibagi saja kesunyian ini
Seba tidak ada satu pun yang murni
Kecuali kesunyian
Sungguh ini suatu yang sulit dipertimbangkan
Serasa merasakan timpukan tornado di musim gugur
Di sabana itu
Jika saja orang lain akan datang ke sana
Tentu lebih baik untuk tetap berdiri disini
Disini
Mendengarkan cicitan burung-burung gereja
Dan tentu bukan dalam kesunyian
Mungkin semua akan tahu
Panggung sandiwara kotor telah dibuat
Dalam nista dan lelah
Sejujurnya tak bisa ini dihindari
Sejujurnya
Kembali ketika kita muda
kita akan selalu mengetahui kapan
Kita akan berhenti
Dan saat ini semua kita telah salaing
mengacaukan
Tak ada yang mendapatkan
Tak ada yang terpenuhi
1 Syawal 1424 H
Cinta lebih mudah tua
Cinta; Aku harap kita akan menjadi tua,
Aku harap kita dapat menemukan jalan kita masing-masing
Cinta, Aku harap kita akan menjadi tua
Aku harap dapat melihat keriput wajah-wajah kita
Cinta: Aku harap kita bisa melakukannya
Aku harap dapat mencari jalan untuk melihat kepergianmu
Sebab dengan begitulah semua menjadi lebih mudah, ya lebih mudah
Hujan di awal musim
Lihat
Lihatlah keluar pada pohon-pohon elk rindang itu
Yang bersinar dalam jatuhan air-air langit
Lihat
Lihatlah keluar pada tanah gembur itu
Yang lembab dihantam tirta yang menggenang
Lihat
Lihatlah keluar menuju taman yang dipenuhi ilalang
Yang tak pernah katakan mengapa kita tidak perlu membagi tangisan
Sekarang, lihat
Lihatlah di luar jendela kamar seperti bekas tapak kaki yang mulai menghilang
Yang jatuh ketika hujan deras diatasnya mengelilingi
Semua itu hanya untuk melepaskan genggaman kecilmu
Pada hujan di awal musim
Yang begitu deras membanjiri peluh raga berbicara
Apakah akan pernah ada kesempatan yang berikutnya?
Seperti sebuah panggilan baru untuk bercinta pada hujan di awal musim
Yang terdengar dari luar bilik jendela kamar
Tanpa pernah katakan berpisah
Hidup adalah untuk hidup
Saat ini takkan pernah lagi ada arti salah
Karena aku datang ke sini
Dan katakan
Hanya jika aku salah,
Maafkanlah aku
Takkan ku biarkan jalan ini timpang
Karena gugusan otak menjadi perih
ketika berpikir tentang segala sesuatu
Tetapi hidup adalah untuk hidup
Kita semua tahu itu
Dan tentu aku tidak ingin diam sendiri
1 Syawal 1424 H
Apakah Aku Gila? ………….Tidak
Wahai dentuman gledek,
Rabalah bilik jantung yang basah oleh ceceran darahku
Dapatkah kamu katakan apa yang aku harus lakukan?
Wahai kilatan petir,
Lihatlah kelopak mata yang tak terpejam untukmu
Sudahkah kamu melihat aurora di semenanjung Alaska?
Wahai malaikat-malaikat angkasa
Aku ingin kalian tahu bahwa air dan api dapat bersatu
Wahai jiwa-jiwa yang beterbangan
Aku ingin kalian tidak kembali menarik hamparan karpet sabana ini
Pada kalian aku tahu semua
Kalian tidak dapat membuat daun-daun flamboyan itu
Menguning.
Terbang berjatuhan
Pada hamparan keringnya daratan
Hingga suara-suara bel angin berbunyi
Hingga suara-suara bel angin berbunyi
Hingga suara-suara bel angin berbunyi
Hingga suara-suara bel angin berbunyi
Hingga suara-suara bel angin berbunyi
Hingga suara-suara bel angin berbunyi
Hingga tak ada lagi ketakutan untuk diterpa taufan terakhir
Karena dingin adalah malam
Apakah aku gila?
Ketika hembusan angin telah membunuhku
Apakah aku gila?
Ketika kulumus adalah celoteh-celotehku
Apakah aku gila?
Ketika lumpur itu kumuntahkan
Apakah aku gila?
Ketika harus kumakan getah kulit pinus
Apakah aku gila?
Ketika samudera ini aku tumpahkan

Dalam akhir lembaran 6 tahun yang ditutup
23 November 2003/1 Syawal 1424 H
{HALIDA}
PERCAYAKAH KAU PADA KATA-KATAKU?
Tolong jangan salahkan aku tentang matahari!,
bagaimana aku tahu, kau akan terbakar?
Tolong jangan salahkan aku tentang bulan,
bagaimana aku tahu, kau akan membusuk?
{dan aku tidak akan pernah membuat kesalahan yang sama}
Tolong jangan salahkan aku tentang dunia,
bagaimana aku tahu semua ini akan memburuk?,
{dan aku tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama}
Lain waktu, aku bangun sebuah adidaya,
dan aku yakin!, kita dapat berbincang panjang-lebar disana
Lain waktu, aku bangun sebuah adidaya :
Dan aku yakinkan kau berpartisipasi di dalamnya!!!
Seribu Memori
Kamu satu-satunya
Kamu segalanya bagiku
Tidak dapat dibagi
Tidak ada satupun diantaramu
Sampai suatu hari
Ketika kau ingin jalanmu sendiri
Kau pergi dan aku terpuruk
Tapi hari ini
Kau hanyalah sebuah gambar
Dengan ribuan memori
Apakah seluruhnya dapat aku ambil
Dengan senyummu saja
Itu terlalu banyak untuk dilihat
Kamu seribu memori
Fantasi menjadi mimpi-mimpi pecah
Perhatian menjadi sejarah kotor
Mengikuti hatiku
Penuhi dengan segenap reaksi
Tanpa kalibrasi
Komitmen adalah janji
Hidup tidak pernah bisa dimengerti
Tak adakah seseorang memperlihatkan tanda padamu
Untuk aku lihat jika kamu yang hanya tahu
Bahwa kamu adalah satu-satunya
Perubahan Pemikiran
Ketika semua minyak telah habis terjual
Ketika semua rotan telah habis dibabat
Ketika jutaan ton tambang dikeruk
Apakah kita hanya akan diam saja?
Dan membiarkan dalam kenistaan
Sementara mereka masih terus merampas
dan istana kelaliman semakin kokoh berdiri
Ketika peti-peti mati telah berjejer
Ketika senapan-senapan mesin berada di depan hidung kita
Ketika propaganda busuk muncul setiap detik
Akankah kita diam saja?
Dan membiarkan kematian yang sia-sia
Sementara waktu terus berputar
Kekuatan terus bertambah besar
Ayo
Milenium telah datang
Masa kebangkitan berada di depan
Kemulian ada di masa depan
Meskipun semua membuat kita ngeri
Terlalu banyak teori, terlalu banyak tekanan
Yang kita butuhkan adalah perubahan pemikiran
Ketika kita takut
Kita dapat sembunyi dalam semangat kita
Tapi apa yang sesungguhnya kita butuhkan adalah peubahan pemikiran
Ya perubahan pemikiran, perubahan pemikiran
Apa yang kita butuhkan saat ini adalah perubahan pemikiran
Berapa Banyak
Berapa banyak orang berhenti berteriak kala mereka mulai mapan?
Berapa banyak orang mati dalam aktivitas mulai ini?
Berapa banyak orang yang hilang dari halaman rumahnya?
Berapa banyak nasihat psikiater yang mereka turuti?
Berapa banyak yang akan kita thitung lagi?
Berapa banyak?
Akankah semua ini menghentikan langkah kita?
Tidak sahabat. Jangan pernah sahabat
Akhir semua telah pasti
Aku, kamu, kalian, mereka
Yaitu MATI
angan jual kami murah
Kami tidak ingin lagi ribuan gunung
Karena jalan telah dibuat
Tolaklah untuk menjadi salah satunya
Sebab kita tidak dapat meraih langit
Kami tidak ingin lagi kesalahan
Atas tragedi kemanusian
Yang dituliskan oleh semua tinta dimana saja
Dan kita semua terlalu muda untuk mati
Seperti sebuah misteri yang pernah ada
Semua orang tidak pernah pergi
Karena mereka tidak dapat mengatakan yang sebenarnya
Jangan jual kami murah
Kalian telah terlalu lama salah
Jangan menyikat kami
Hanya karena kami tidak turut kalian
Suka atau tidak suka aku berada di tangan kalian
Bilamana kami ditembak mati
Janganlah jual kami murah
Dan inilah kami
Kami harus mencari jalan kami
Dimana tidak ingin lagi ada kesenjangan
Yang dikuasai sebagian kekuatan
Dimana tidak ada lagi surplus dapat dibayar
Lepaskanlah kami, abaikan tangisan kami,
Lupakan kami bila kami mati
Hanya jangan jual kami murah
Tapi selama kami masih memegang nyawa
Kalian tidak akan dapat berbuat jauh
Revolusi Kita
Kita adalah revolusioner
Bersama, Kita mempercayai kita
Membangun dan melihat dengan mata kita sendiri sebuah dunia baru
Dimana tidak ada lagi serigala yang menjadi manusia
Yang ada hanya manusia
Kita adalah saudara dan selamanya bersaudara
Bersama, kita akan bergerak
Kita akan bergerak, semua atau satu persatu dari kita
Walaupun semua itu terkesan jauh
Kita akan tetap menggapainya, semua
Cita-cita kita,
Selalu,
Oleh semua pemuda
Walau hari baik saat ini begitu jauh
Atau bahkan tidak pernah datang
Kita tidak akan pernah peduli
Kita tidak akan pernah mundur satu jengkal pun
Biarlah butir-butir darah kita menjadi mata
Karena kita percaya
Kehidupan kitalah yang terbaik
Kita manusia-manusia paling bahagia
Sepanjang masa

Infeksi



Sekarang aku akan pergi
Doakan aku jangan tumbang di tengah jalan
Aku tidak menginginkan sesuatu, aku tidak butuh sesuatu
Tolong hentikan bila aku mulai macam-macam
Kau dan aku adalah pesakitan
Kau pengaruhi aku, kau dipengaruhi aku
Aku pengaruhi kau, kau pun ketagihan
Kau dan aku, aku dan kau
Aku diatas permukaan
Menentang tembok tiran
Terasingkan
Namun aku cinta menyerangmu
Inilah pembelaanku
Pelajarilah dalam benak dan hatimu
Hentikan bila aku terbukti salah
Tunduklah bila aku benar
Jangan kau menjadi gila atas celotehku sayang
Kau dan aku, aku dan kau
Aku hanya ingin mengikatmu, menjejalimu
Sebelum dirimu hancur dengan tanah
Dengan pemikiran
Tanpa kekerasan

…..7 Maret 2001…

Wednesday, February 09, 2005



Seruan Bagi Para Pemberontak



Oekk….oekkk… bablas hitutku!
Duttttt…..Dutttt
Pretttttt…..

Sebelumnya terima kasih biar aku persembahakan seluas angkasa kepada para pemberontak dimana pun kalian berada. Terimalah kasih ku yang sedalam Palung Arafuru yang kebal oleh hangatnya sang surya.
Seruan mengelora ini aku sampaikan kepada saudara2 ku para pengkhianat, para revolter, para pendobrak, para fundamentalis juga seluruh PUNX (ya kalian adalah semunya punx) dimana pun ruh Pencipta ada.
Salam kasih dari saudara ini yang coba untuk tetap konsisten dalam kemegahan ideologi. Yang berusaha tidak terkarbonisasi. Yang berusaha tetap mendulang subversif. Yang berusaha menghantam seluruh tiran-tiran. Demi kepalan-kepalan tangan yang mengeras di teriknya siang dan bergetarnya pengeras suara.

Marilah kita melakukan salvo kentut hingga membahana memenuhi macyapada. Karena telah lahir sebuah pergerakan yang dibidani oleh Suster Japra. Tak ada satu pun upil yang layak menjadi cela terhadap bangkitnya sebuah pemikiran kritis. Sebab resah-resah jiwa tidak akan pernah bisa memenjarakan batin. Memenjarakan hati. Memenjarakan pikiran ini. Biarkahlah raga terliliat dalam pasung2 dogmatisasi. Tapi Biarkan pula jiwa2 berontak mati secara asasi. Long live Hizbut Tho’am! Hidup Gerakan Makan! Lolodok terus demi revolusi!

Sebenarnya tidak ada sepasang sayap pun yang bisa membawa trilyunan asa ini mengangkasa melewati galaksi menembus ke tujuh langit di atas sana. Namun tentunya sebagai seorang yang selalu membakar matahari, aku mencoba untuk untuk membuat satu sintesa yang tersari dari serpihan imaji hati tersisa yang tersejukan dari dosa dan moksa. Aku, saudaramu, hanya mampu membuat sebuah saja dalam kegelapan yang tiada akhir ini. Biarkanlah tidak berada di kanan ataupun di kiri atau melekat pada sumsum tulang belakang kalian. Sebab aku masih harus menandai bedanya cinta dan benci atas sebuah nama yang tidak akan pernah abadi. Oleh karena itu, sudikah kiranya kalian berikan aku mata dan satu kuping kalian untuk satu merajut sepotong lagi sayap yang mampu mengepak dan membawa kita ke sebuah tempat yang tak bernama. Karena satu-satunya marabahayaku adalah ketakutanku untuk terbang sendirian.

Aku, saudaramu, berpandangan bahwa ketika kau mempunyai hak untuk hidup maka kau berhak hidup dimanapun tempat yang kamu pilih. Aku, saudaramu, berpandangan bahwa ketika kau mempunyai hak untuk bekerja maka kau berhak bekerja dimanapun lahan yang kamu pilih. Aku, saudaramu, berpandangan bahwa ketika kau mempunyai hak untuk pergi maka kau berhak pergi kemanapun tujuan yang kamu pilih.
Aku, saudaramu, berpandangan bahwa ketika kau mempunyai hak untuk bekerjasama maka kau berhak bekerja sama dengan siapapun yang kamu pilih. Aku, saudaramu, berpandangan bahwa ketika kau mempunyai hak untuk berbicara maka kau berbicara dengan menggunakan bahasa apapun yang kamu pilih

Saudaraku, resonansi ini aku gaungkan sebagai pompa pemberontakan. Sebagai sebuah tamasya ke sonata keabadian yang tak teralienasi sejuta dusta. Sebagai kepalan penghormatan terhadap Emma Goldman dan Alexander Berkman. Sebagian senandung syair-syair mistik Jalaludin Rumi. Sebagian pengorbanan diri atas zuhudnya Ghazali. Ini semua adalah sebagi tolak ukur aku, saudaramu untuk berada dan seantiasa berada dalam dunia bawah tanah. Dalam dunia yang tidak mengenal kompromi. Yaitu dunia bawah tanah bukan dunia atas tanah.

Saudaraku, biarkan dunia atas tanah sibuk dengan CITRA semu mereka, namun dunia bawah tanah seperti aku dan kalian tidak akan memerlukannya. Ironis memang kadang kala sebuah revolusi harus terkhianati, tapi jika revolusi itu tumbuh dan hidup dalam hati kita selaku revolusioner, maka revolusi itu tidak mungkin dapat terhenti! Sekali lagi, Tidak mungkin berhenti walaupun liang kentut kita disumbat pasak-pasak dubur. Namun kentut bisa kita lakukan melalui lubang telinga kita.

Saudaraku, kehidupan sejati mesti kita rebut, tak ada seseorang pun yang berhak mengatur dan memaksa diri kita untuk melakukan apapun yang tidak kita sukai. Apa yang kita benci. Apa yang bukan masuk dari sungut dan keluar menjadi kentut kita.

Oleh karena itu, aku, saudaramu, meneriakan pada koridor-koridor penglihatan dan pendengaran kalian bahwa saat ini telah lahir sebuah gerakan yang berbasis pada para punx; kaum revolusioner, kaum radikalis, kaum fundamentlis bukan dari otak borjuis. Sebagai penyikapan atas muaknya aku, saudaramu terhadap para pemimpin2 hipokrit yang mendambakan revolusi tetapi lantas menzinahi otak2 orang sendiri dengan dalih gado-gadoisme tetapi ternyata lebih persis monarki berhati srigala.

Hizbun Majnun Al Nahdhah. Itulah nama yang aku pilih untuk gerakan ini. Silakan kalian tafsirkan semua kalian apa arti nama yang aku, saudaramu, pilih ini. Sebab aku meyakini bahwa apabila aku ingin bebas. Aku ingin bahagia. Maka kebebasan aku hanya dapat diperoleh bila orang disekitarku merasa bebas. Aku hanya bisa merasa bahagia apabila semua orang disekitarku pun merasa bahagia. Aku hanya bisa nyaman, apabila orang orang yang aku temui dan ku lihat di dunia ini merasa nyaman. Dan aku hanya dapat makan dengan nyaman apabila orang lain juga dapat merasa nyaman dengan makan seperti aku. Dan untuk alasan tersebut, dari diriku sendiri, aku memberontak menantang setiap bahaya yang mengancam kebahagian dan kebebasanku. Begitulah anarchyreligiusromantisme memandang kehidupan ini.

Anarchy untuk kamu yang berhak untuk hidup dimanapun tempat yang kamu pilih. Untuku yang berhak untuk bekerja dimanapun lahan yang kamu pilih.Untuku yang berhak untuk pergi kemanapun tujuan yang kamu pilih. Untukmu yang berhak untuk bekerja sama dengan siapapun yang kamu pilih. Untukmu yang berhak untuk berbicara dengan menggunakan bahasa apapun yang kamu pilih

Religius untuk kamu yang meyakini bahwa Tuhan akan menjedukan kalian di samping kiri dan kanan kalian. Untukmu yang masih membutuhkan gamparaNya. Untumu yang membutuhkan bacokanNya. Sebab kamu masih butuh memar, bengkak, nanah tumpah bencana tindih untuk tunduk di balkon Arsy-Nya. Sebab kamu masih butuh halilintar untuk membelah bumi. Sebab kamu masih membutuhkan banjir bandang di segenap benua yang durhaka. Sebab kamu memmbutuhkan nyala kobaran api dan cairan lava untuk kamu gunakan sebagai pensuci randu-randu jiwa.

Romantis untuk kamu yang ingin memberi. Dengan segala daya dan keterbatasannya memberikan apapun yang sekiranya bakal membuat seseorang senang. Bukan balasan yang diharapkan meski itu menjadi sesuatu yang melegakannya. Senyum dan kebahagiaanlah yang menjadi tujuannya. Ini pun ditujukan untuk kamu yang ingin menceriakan, seperti bunga-bunga indah di taman yang membawa kenyamanan bagi yang memandangnya. Seperti rerumputan hijau di padang luas yang kehadirannya bagai kesegaran yang menghampar. Seperti taburan pasir di pantai yang menghantarkan kehangatan seiring tiupan angin yang menawarkan kesejukkan. Dan seperti keelokan seluruh alam yang menghadirkan kekaguman terhadapnya. Selain itu, ini pun untukmu yang ingin berkorban, bagai lilin yang setia menerangi dengan setitik nyalanya meski tubuhnya habis terbakar. Hingga titik terakhirnya, ia pun masih berusaha menerangi manusia dari kegelapan. Bagai sang Mentari, meski terkadang dikeluhkan karena sengatannya, namun senantiasa mengunjungi alam dan segenap makhluk dengan sinarannya. Dan ini pun untukmu yang ingin kaki-kakimu melangkah membangun samudera kebaikan. Dimana tangan-tanganmu yang merajut hamparan permadani kasih sayang. Hatimu yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan yang lebih baik. Seperti udara yang mengisi ruang kosong. Seperti air yang mengalir ke dataran yang lebih rendah.

Saudaraku, atas dasar ketika itulah jadikanlah kamu sebagi seorang punx. Seorang pemberontak yang menolak tunduk. Yang membangun dunia atas etos kerja D.I.Y (Do It Yourself) sebagaimana banyak kolektif2 anarcho pasifism lakukan. Akan tetapi matangkan diri kamu dalam tarian sufistik Rumi dengan turbus dan putaran2 mistisnya. Sehingga menjadi suatau keterpaduan yang bakal mensyahdubirukan dunia yang kecil ini. Juga membangkitkan manusia2 kritis untuk melakukan May Day jilid kedua.

Saudaraku, pergerakan ini bukan pergerakan politis seperti yang selalu dicocokan ke dalam batang hidung kalian. Sebab aku, saudaramu, memandang bahwa politik adalah permainan bersisi yang bila tak arif maka bertarif dan bila tak bijak maka terbajak. politik bukanlah uluran sendok makan bagi anak-anak yang berimba di jalanan tapi bagi kita-kita yang berumah di awan-awan. Disinilah seharusnya politik menjadi sajian berlapis yang apabila tanpa mata maka kata jadi pisau. Dan apabila tanpa hati maka hari jadi buram. Kalaulah demikian adanya maka politik bukanlah dewa penyelamat bagi insan-insan yang berharap. Terlebih bagi kita-kita yang berhutang. Sebab ia adalah auman singa bermeja yang tanpa kompas maka jelajah akan melebar. Dan tanpa kompak maka aspirasi akan usang. Ini bukanlah lagu ninabobo tapi alat bagi kehidupan yang akan melayang-layang walau tanpa dikendalikan dan akan melalang-lalang tanpa adanya nurani.
Saudaraku, atas nama anarchyreligiusromantisme, teruskan pemberontakan! Sebab aku sudah muak dengan persengkongkolan ini! Kesadaran yang dikebiri, pembiusan yang dijejalkan dalam iklan sabun mandi, hingga keinginan untuk melegalkan bunuh diri: Stop! Hentikan semua itu! Di dalam pembodohan tak ada hak asasi. Tak ada kebebasan atau hati nurani. Yang ada cuma hak untuk dikencingi, hak untuk menjadi semakin tidak manusiawi. Aku telah bosan dengan anjing-tikus-kamuflase demokrasi! Perjuangan cuma mitologi. Karena itu, dengarkan, wahai pembodoh2 yang berkuasa: kalian boleh penjarakan tubuh kami, kalian bisa hisap alam kami, tapi satu yang tak akan pernah bisa kalian miliki: pikiran kami, ya, pikiran kami untuk merdeka! REVOLUSI KAMI, takkan berubah jadi komoditi.

Saudaraku, Jadikanlah diri kamu buldozer revolusi! Biarkan mereka mencaci kamu. Biarkan juga mereka memuntahi kamu dengan nafas2 durja mereka. Biarkan pula mereka mengejek kamu karena menentang sistem mereka. Dan biarkan mereka menghina kamu karena menuntut sesuatu yang kamu yakini. Tapi tetaplah menjadi seorang punx. Menjadi sosok yang revolusioner. Hanya katakan pada mereka yang telah membuatmu demikian. Katakan jangan terkejut apabila suatu saat kamu akan menghancurkan pemikiran mereka dan otak2 mesum (hingga mereka semua lari ke ketiak ibu2 mereka)
dengan bulldozer peradaban. Itulah mengapa perlawanan dan kemenangan dikatakan hanya untuk kaum revolusioner. Ya hanya untuk kamu!

Saudaraku, inilah saatnya bagi kita untuk mengakui, bahwa walau bagaimanapun kita adalah pengusung anarchyreligiusromantisme, kita membenci tatanan saat ini dan kita menginginkan sebuah dunia baru tanpa perlu kompromi, juga bahwa seharusnya kita adalah juga kaum revolusioner yang tidak tersekat-sekat dalam ikatan keanggotaan atau bukan anggota. Yang tidak tersekat-sekat hierarki atas-bawah. Semua adalah sama.

Viva Anarchyreligiusromantisme!
Viva Anarchyreligiusromantisme!
Viva Anarchyreligiusromantisme!
Hasta la victoria siempre

Saudaramu,
Syeikh Majnun Al Bardany
Penyambung lidah Janda-janda Kesepian
Penikam orang2 yang sok benar padahal keparat
Pemerkosa wadam-wadam dan pelacur yang berlindung dalam simbol2 kuasa





Sunday, January 30, 2005




Berjaga dimana kau berdiri

Inilah kedamaian
Ketika hembusan hangat dirimu buat ku tak bersalah
Inilah sebenar-benarnya obat
Ketika sandaran tubuh ini menjadi bidang dihempas dirimu
Inilah kehangatan
Ketika doa-doa mu sayup memenuhi keheningan malam
Maka hati-hatilah dimana kamu berdiri
Sebab sandaran kepalamu adalah nyawa bagi esok hari



NEO REVOLUTION MANIFESTO

Hingga tulisan ini ditulis, jalan-jalan protokol di ibukota propinsi dan negeri ini masih digemuruhi suara penentangan terhadap berbagai kebijakan negara oleh mahasiswa. Meski tidak sedahsyat beberapa tahun ke belakang sehingga membuat penguasa kala itu terkencing-kencing, namun aksi-aksi yang dilakukan saat ini tak pelak membuat penguasa harus mengelap keringat dan memaksa keluarnya RUU Intelejen yang sarat dengan kontroversi.
Secara substansi, apa yang diserukan mahasiswa pasca ORBA dengan mahasiswa pasca REFORMASI tidak jauh berbeda. Intinya adalah ketidakpuasan-ketidakpuasan serta kekecewaan terhadap pola dan sistematika kerja pemerintah. Bukannya semakin populis tapi justru menjurus kepada keberpihakan pemerintah terhadap kaum borjuis pemilik modal kelas kakap. Akhirnya, berbekal teori yang diajarkan dosen di altar-altar universitas, secara moral, mahasiswa (tak tertutup kemungkinan bernilai politis) meneriakan tuntutan perubahan. Sangat wajar apabila mahasiswa berpendapat bahwa: perubahan merupakan antitesis yang akan selalu berhadapan dengan tesis sebelumnya. Dan begitu seterusnya. Sampai mati. Sampai bumi botak. Sampai galaksi batuk. Semua tesis pasti ada antitesisnya!.
Sampai tulisan ini dibuat pun (kalo ada yang mau menggagap dirinya revolusioner, silakan kumaha maneh we!) kita masih tetap menjadi pelacur-pelacur kapital. Sedangkan ideologi Kapitalisme, berperan sebagai germo yang memeras peluh serta seluruh hasil kerja kita dengan dalih –yang katanya-- untuk kita juga. Bah, bullshit!. Namun memang itulah yang teropinikan di tengah masyarakat. Pemahaman, perasaan dan perbuatan setiap individu diracuni oleh sistem berpikir kapitalis. Sehingga penyikapan atas situasi “borokokok” seperti ini dianggap lumrah oleh sebagian besar masyarakat. Jadolnya, meski banyak yang mengetahui kekurangajaran sistem ini namun mereka malah mengkambinghitamkan nasib dan keberuntungan yang tidak memihaknya. Sadis!, banyak rakyat kelaparan --sementara banyak makanan yang dihamburkan begitu saja oleh para borjuis kapitalis tadi-- mereka katakan; “ini nasib dan takdir kalian ho…ho…ho”.
Lalu untuk apa dan dimana peran penguasa?
Bukankah kelahiran penguasa berawal dari kontrak sosial di dalam tubuh masyarakat?
Lantas kenapa penguasa melupakan jeroan tubuh sendiri: masyarakat?
Jika penguasa kerap mengkambinghitamkan nasib dan takdir, maka wajar jika perjalanan panjang negeri ini bukannya menuju titik kejayaan melainkan semakin nutug menuju titik kulminasi kenistaan. Gak percaya?
Coba lihat, --sebelum suatu permasalahan rampung-- permasalahan baru yang semakin komplek bermunculan. Lihat saja ketika krisis moneter membuat rakyat miskin bengek eh … muncul kemudian bencana alam dimana-mana, eh … kontak senjata dan tindakan represif berlangsung di Aceh, eh … tiba-tiba ditangkap beberapa aktivis dengan dalih terikat jaringan terorisme internasional. Tak lama setelah itu… muncul VCD-VCD porno mahasiwa, goyangan ngebor Inul, dan VCD hidden camera -nya artis Indonesia. Bahkan lebih dari itu, --akibat kekosongan jiwa dan perut-- muncullah Sumanto, manusia kanibal dari Purbalingga, yang langsung digiring ke hotel prodeo. Ironisnya, kanibal ganas lain yang menghisap dan melahap uang rakyat dari negeri yang miskin ini justru bebas berkeliaran dan akhirnya rest in peace (hell exactly) di Australia. Kanibal lainnya nggak ada yang berani nangkep, eh… malah dikasih makanan terwelu, carrot R/D (Release and discharge) yang menjamin kebebasan para kanibal itu.
Lha, siapa yang buta, siapa yang goblog ?.
Kalo Sumanto si kanibal cenghos disuruh makan daging mentah --untuk membuktikan kekanibalannya-- kenapa kita tidak suruh kanibal --yang lebih ganas dari Sumanto--, makan duit mentah-mentah kayak di acara I Bet You Will, dengan sajian utamanya : memakan mobil-mobil mewah + bumbu semen dan bata-bata villa mereka di daerah resapan air Dago dan Puncak, hakan siah!. Kalau cegukan, sodoklah bebenguk (mulut) mereka dengan softdrink warna-warni yang dituangkan dari limbah pabrik industri. Tapi sebelum itu, mereka harus melodok hidangan penutup berupa : bulu-bulu ketek penguasa yang selama ini dijadikan tempat berlindung. Sok siah! Haseum haseum, utah-utah, weureu-weureu ... (Edan!, saya sadis banget yah?).
Penderitaan yang menimpa rakyat kecil merupakan kesalahan kolektif akibat kelemahan sistem, sehingga tidak bisa dikatakan bahwa kesalahan yang terjadi adalah akibat lemahnya iman/ khilaf individu saja, sebab permasalahan yang menggejala di tengah-tengah masyarakat secara holistik, meliputi politik, ekonomi, sosial-budaya, dll sangat tidak mungkin dikambinghitamkan kepada kelakuan individu saja.
Seorang individu berlaku demikian dikarenakan elemen-elemen yang ada disekitar dirinya mendukung dan memberikan kesempatan baginya untuk bersikap di luar batas tatanan dan norma yang ada. Jelas, fakta yang dilampirkan diatas bukan merupakan kesalahan individu belaka melainkan juga kesalahan besar sistem.
Suatu sistem pasti mempunyai kekuatan untuk menyebarkan, menjaga dan mempertahankan diri dari hal-hal yang bertentangan dengannya. Bila sistem tersebut lemah karena memang, lahir dari keterbatasan dan ketidak-mampuan, apa mau dikata?. Haruskah kita terhenti pada noktah hari ini saja? Atau kita lebih memilih dilindas ribuan nista tanpa mengeluarkan kemampuan untuk berteriak melawan? Jawaban semua itu tergantung pilihan kita. Opsinya adalah YA atau TIDAK!
Kebutaan masyarakat menyikapi semua fakta memberi arti bahwa institusi sosial masyarakat sudahlah tidak ada lagi. Sebab –mengakui atau tidak--, pada kenyataannya pengertian masyarakat jauh dari apa yang disebut sebagai masyarakat yang khas sehingga hal ini memustahilkan terjadinya satu kebangkitan yang hakiki.
Masyarakat yang khas terdiri dari kumpulan manusia yang terbentuk dari kesamaan-kesamaan pemikiran, perasaan serta aturan yang mengatur satu kesatuan sikap dan tindakan. Fakta masyarakat yang kita rasakan saat ini berlawanan dengan konsep masyarakat yang dapat mewujudkan kebangkitan hakiki. Lihat saja, ketika beberapa individu ditanyakan beberapa masalah fundamental, mereka berkata A, yang lainnya berpikiran B, bahkan ada yang bertentangan 180 derajat dengan A dan B. Perbedaan ini kontra produktif bagi keberlangsungan kehidupan sosial bermasyarakat. Permasalahan-permasalahan kompleks seperti itu tidak terjadi di negeri ini saja. Di negeri pencetus “demokrasi burununggul!” --AS dan setumbilanya (sekutu sudah bosan)— kini ketidak-khasan masyarakat menjadi konflik yang mengkristal.
Setelah keruntuhan sistem sosialisme, kapitalisme tidak mendapatkan rival yang dapat menjegal hegemoninya. Dengan tidak adanya rival bukan berarti kapitalisme yang paling digjaya dan paling benar secara sistemik. Sayangnya, perspektif bahwa kapitalis merupakan ide mumpunilah yang banyak dijadikan rujukan. Semua orang merasa bangga dan hebat apabila berbicara lantang dengan merujuk pada pemikiran-pemikiran kapitalisme --dan diasingkan manakala menentang kapitalisme global saat ini--. Kalangan cendikiawan akan merasa inferior jika dalam seminar-seminar dan diskusi publik tidak berbicara mengenai solusi permasalahan pembangunan tanpa mengambil invisible hand-nya Adam Smith dan besaran makro-nya Keynes. Orang akan diberi senyum sinis dan dianggap weird manakala ia menghardik trias politika, nation state, copyright, human right, globalization,dll. Gemerlapnya era kapitalisme menjadikan masyarakat lupa untuk mengkritisi ulang ide tersebut.
Lantas ketika kita melihat sosialisme/komunis yang ditabukan semenjak kisah gelap di masa revolusi dulu. Sehingga pemerintah menjadikannya sebagai bahaya laten atau cenang yang harus direndam dalam air garam (lewat kampaye pemberangusan sosialisme komunis dilakukan oleh pemerintah lewat perpanjangan tangannya –militer, pemuka agama, guru-guru SD hingga Perguruan Tinggi, dsb).
Apakah hal itu salah?
Tidak!. Hal ini benar 1000%. Duapuluh jempol buat mereka. Hanya sayang, --justru-- mereka (baca; pemerintah) malah menutup mata pada raja setan ablokotok yang ada dibokong. Raja setan yang jelas-jelas mengrogoti dompet dan daging empuk dari bokong kita yang ranum oleh lemak. Coba, pilih mana? Ngejar-ngejar setan kecil yang sudah lama dimasukan kedalam keranda atau memilih raja setan yang segede gajah bengkak di pelupuk mata, dilihat pakai kaca pembesar berjarak jarak satu meter, yang sedang asik memberi kita makanan dari kotorannya?. Sungguh malang ck…ck.., masih ada yang mau diberi makan kotoran padahal lebih baik makan ubi dan kentut (dari saripati ubi) daripada makan tai kemudian kentut (dari saripati tai yang dimakan). Sungguh! kentut pun tidak mungkin rela, jika kentutnya berasal dari tai --apalagi berasal dari tai raja setan--.
Tak heran bila di hari-hari kemudian, raja setan ketar-ketir takut ketahuan belangnya. Maka, demi menyelimuti rasa takutnya, raja setan mereka-reka cara dengan mencomot ide dari sana-sini dan melakukan tambal sulam atas kekurangan serta tindak kejahatan yang dilakukannya selama ini. Mulai saat itulah lahir kemudian fenomena new world order yang salah satu idenya mengakulturasikan isu-isu santapan lezat sosialisme/komunisme --seperti perburuhan, distribusi, kepemilikan, dll— menjadi bagian dari kapitalis. Mereka tahu bahwa tanpa berbuat demikian justru akan menjadikan stimulan bagi individu-individu kritis untuk menggalang sikap antipati masyarakat dunia. Walhasil, semua pengkaburan tersebut merupakan bukti nyata bahwa kapitalisme sangatlah lemah. Dan kelemahan tersebut ditampakkan oleh kinerja sistem kapitalisme yang membuat Amerika Serikat --saat ini-- mengalami resesi akibat anjloknya pasar saham yang mereka ciptakan. Begitu pula dengan rapuhnya sistem mata uang yang tidak distandarkan pada logam mulia (emas dan perak) sehingga uang tidak ada artinya selain kertas begitu saja.
Karena kebobrokan kapitalisme jugalah para pemilik kapital berusaha dengan giat meminimalisir kerugian yang mereka dapat. Salah satu jalannya, dengan menghisap negeri lain yang memiliki kekayaan besar seperti negeri tercinta ini dan negeri-negeri dunia ketiga—1) .Serta banyak kelemahan lainnya yang tak mungkin dituliskan di dalam zine ini.
Pemikiran-pemikiran Kapitalis berulang-ulang terus dijejalkan pada otak kita. Sejarah berikut teori-teori akademis sengaja di jadikan alat untuk meghapus nalar-nalar kritis. Bahkan para penguasa yang pasrah pada para kapitalis, apatis terhadap perubahan yang disuarakan rakyat. Pada faktanya, --jangankan perubahan-- nasihat bijak yang mahasiswa lontarkan terkadang dianggap sebagai angin lalu atau bahkan senjata terkokang yang siap menghancurkan tubuh mereka. Dan sesuatu yang baik bagi penguasa dan rakyatnya pun, terkadang menjadi tindakan delik, subversif teroris yang layak ditindak represif.
Sayangnya, kritikan kaum reformis terhadap penguasa tidak menyentuh akar-akar permasalahan yang ada. Kaum reformis mengusung jargon perubahan parsial (reformasi), padahal disatu sisi mereka mencaci maki kebejatan kapitalisme. Dengan perubahan tambal sulam, perjalanan perubahan akan tersendat setengah matang. Terlebih, apabila dalam mekanisme perubahan, terjadi kompromistik yang akan menjadikan solusi permasalahan tidak bersifat fundamental. Untuk membuktikan hal ini, lihat saja aktivis gerakan yang disibukan oleh alternatif-alternatif revolusi seperti HAM, konservasi alam, pergantian pucuk pimpinan, atau muncul pula bisnis-bisnis “halal” (contoh; Bodyshop) yang menjustifikasi belanja tanpa rasa salah, dengan jargon : “belanja pada mereka berarti menyelamatkan dunia”. Mereka (aktivis gerakan) gagal menghantam inti permasalahan, sebab tidak menuntut perubahan radikal. Hanya perubahan kosmetik. Sehingga dengan memberi solusi parsial, mereka ikut mendewasakan dialektika dan hegemoni kapitalisme global.
Penanganan masalah-masalah diatas ibarat menambal genteng rumah yang kondisi rumahnya rusak berat (dinding reyot, pondasi hilang). Sehingga jika suatu saat datang angin kencang, orang yang memperbaikinya akan ikut tertimpa dinding dan atap rumah yang reyot tersebut. Oleh karena itulah, bukan genteng yang harus ditambal tapi runtuhkan rumah tersebut, kemudian dirikanlah rumah baru yang lebih kokoh, rumah yang lebih bersih, rumah yang lebih aman, rumah yang penuh fasilitas, rumah yang menjaga penghuninya luar dalam. Dalam artian, bahwa implementasi aksi yang sangat urgen dilakukan saat ini, adalah : menghancurkan sistem bobrok yang selama ini kita gunakan.
Kalaulah kita menginginkan revolusi, maka kita harus ikut melakukan perubahan. Sebab revolusi tidak akan datang begitu saja. Revolusi perlu diperjuangkan. Kecuali bila kita hanya mau jadi penonton dan sembunyi (karena revolusi bukan untuk seorang pecundang). Oleh karena itu, penolakan terhadap nilai-nilai yang menjadi pondasi tatanan masyarakat, harus terus diguncang. Kita harus straight to the point menghatam kapitalisme dengan membongkar kepercayaan masyarakat terhadap fondasi Kapitalisme itu sendiri. Kita harus memahamkan masyarakat bahwa ide nasionalisme, demokrasi, globalisasi, hak asasi manusia, privatisasi, pluralisme, pasar bebas, feminisme, pada faktanya adalah bullshit! yang jika ditelaah secara rasionalitas tidak akan pernah menyelesaikan permasalahan --justru dengan diambilnya ide tersebut akan menambah masalah yang menguntungkan kapitalis--.
Kini saatnya kita melakukan reinterpretasi, bagaimana –seharusnya-- revolusi dilakukan. Kita tidak akan mencomot ide nasionalisme, demokras etc diatas untuk dijadikan sandaran bagi titik awal gerakan revolusi sebab “mana mungkin ada ideologi yang mau menikam tubuhnya dengan senjatanya sendiri?” (paling-paling kita diberi diberi senjata mainan).
Revolusi harus dilakukan secara kolektif (bahu-membahu antar individu) dan holistik (menyeluruh) sebab perjuangan reaksioner akan menyita perhatian dan waktu kita dari masalah akut. Adalah hal yang benar manakala --saat ini--kita melakukan perlawanan terhadap kapitalisme & sosialisme berikut turunan-turunannya yang berdialektika mengbunglonkan diri. Kini saatnya kita tuntut sistem/ideologi baru. Sitem ideologis yang benar-benar hakiki. Sistem yang tidak berasal dari kebodohan akal manusia. Sistem yang mampu menyelesaikan semua persoalan manusia --karena pada awalnya sistem tersebut telah menjabarkan secara menyeluruh, hakikat manusia itu sendiri—artinya : sistem yang memelihara akal, jiwa, sesuai fitrah serta menentramkan perasaan manusia.
Pemuda seusia kita adalah sosok --yang dan-- harus revolusioner. Tidak bisa kita menolak kobaran api pemberontakan yang ada dalam tubuh –sebab penolakan atas kobar api pemberontakan merupakan penindasan terhadap jiwa revolusioner yang seharusnya ada dalam pemikiran dan perilaku pemuda--.
Kita harus merekayasa revolusi dengan : melakukan aktualisasi pemikiran/ide/nilai-nilai ideologi yang kita emban ke tengah-tengah masyarakat. Individu-individu yang tergabung dalam gerakan secara berkesinambungan, harus menambah wawasan dari berbagai disiplin ilmu. Jejali otak kita dengan teori materialisnya Marx, teori radikalisme berpikir ala Anthony Giddens, teori liberalisme pasar Antonio Gramsci, teori pendidikan untuk kebebasan Paulo Freire, teori teologi pembebasan Asghar ali Engineer, teori agresivitas manusia dari psikoanalisis kritis-nya Erich Fromm hingga konsep-konsep Jaringan Islam Liberal untuk dimengerti dan dicari kelemahan-kelemahannya, sehingga kita dapat mengetahui titik lemah ide yang akan kita hantam di diskusi dan seminar-seminar publik yang akan diadakan di tengah-tengah masyarakat. Lakukan transfer pemikiran --kepada orang-orang yang tergerak akal dan perasaannya untuk merekayasa revolusi-- sehingga mereka mengerti bahwa perjuangan yang harus dilakukan saat ini adalah perjuangan partai melalui perang pemikiran dan pergolakan politik yang pada klimaksnya akan mempolarisasikan perasaan, pemikiran, kebiasaan dan sistem yang sama pada satu kutub institusi.
Bentuklah kader-kader tangguh yang meyakini sepenuhnya kekokohan ideologi --yang akan menyerahkan komoditas jiwa, intelektual serta materi yang dimiliki-- sebab pada faktanya kader-kader tersebut akan berhadapan dengan masyarakat yang notabene memiliki banyak berbagai pemikiran dan derivat (cabang) ideologi –terlebih ideologi kapitalisme---. Keyakinan terhadap ideologi akan sangat berpengaruh bagi terlaksananya tahapan revolusi : pembenturan ide.
Pada dasarnya setaip ideologi begitupun para pengembannya akan berusaha menjaga, menerapkan dan menyebarkan ideologi tersebut keseluruh dunia. Sistem yang berlaku tidak mungkin diam melihat dirinya diobrak-abrik oleh sebab itulah sistem akan terus menerus menggerus idealisme seorang individu dengan pemikiran yang menjadi mainstream proses berfikir dan berpeasaan massyarakat. Oleh karena itu, perlulah dibentuk suatu kelompok atau partai yang beraktivitas secara politik yang bergerak diatas ideologi yang diemban. Partai harus bergerak diluar sistem pemerintahan agar ideologi yang ingin disampaikannya tidak tersendat oleh aturan yang berlaku di dalam sistem tersebut2)/ Partai harus anti kekerasan dan sebab dalih perjuangan menggunakan kekerasan justru akan memudahkan pemberian kambing hitam labelling3).
Perjuangan harus dilakukan ditengah-tengah masyarakat. Perjuangan-- membutuhkan inovasi yang dititik beratkan pada konsentrasi penyebaran ideologi melalui media massa --sebab hampir 90% informasi yang ada di dunia saat ini dikuasai kapital-- sehingga mau tidak mau objektivitas berita haruslah disesuaikan dengan perspektif pemilik modal3). Masyarakat akan bangkit manakala mau menerima dan paham dan mempercayai satu pemikiran, perasaan, serta serta aturan.
Masyarakat akan bangkit jika menyadari bahwa kebangkitan pemikiran hanya dimulai dengan pemahaman. Bukan dengan bantuan sosial, aktivitas sosial, atau seruan-seruan yang menentramkan hati sesaat. Kesadaran terhadap pemikiran akan menjadikan masyarakat menolak patuh terhadap sistem kapitalis yang menjerat mereka. Hukum dan undang-undang yang diterapkan tidak akan mampu membuat masyakat disiplin, patuh dan taat --kepadanya--, sebab masyakat sadar akan kebodohan penguasa. Para penguasa akan pusingan tujuh keliling deh! kalau asyarakat tidak mau menuruti lagi perintah mereka.. Sehingga mereka akan berfikir “rakyat mana yang mereka kuasai sedangkan semua masyarakat enggan menuruti?”. Akhirnya mau tidak mau penguasa akan tunduk terhadap tuntutan perubahan fundamental yang disuarakan masyarakat.
Timbulnya kesadaran ideologis, secara otomatis akan membentuk institusi yang akan menerapkan hukum dan undang-undang yang sesuai dengan ideologi yang diyakini. Di dalam institusi itulah masyarakat akan rela diperintah oleh hukum dan undang-undang tersebut dengan penuh ketaatan. Fakta telah banyak berbicara. Model revolusi seperti itulah yang berhasil membuat perubahan fundamental yang bearti bagi kebangkitan manusia. Contoh revolusi seperti yang akan menjadikan masyarakat memiliki kekhasan yang dapat membawa kebangkitan adalah : revolusi Islam yang dibawa Muhammad di Arab --yang sukses berjaya selama 13 abad--, Revolusi Perancis yang berhasil meluluh-lantakan kerajaan kala itu dengan slogan liberte, egalite, fraternite, serta revolusi Bolseviik yang dipraksai Trotsky, Lenin sehingga berhasil mengalang rakyat untuk meruntuhkan Tzar.
Inilah --saatnya bagi kita-- untuk mengakui bahwa kita membenci sistem yang diberlakukan. Inilah saatnya pemuda susia kita menjadi revolusioner. Inilah saatnya --bagi kita-- untuk bekerjasama dengan elemen-elemnen masyarakat yang ada, bekerjasama dengan mereka yang tertindas dan mulai membentuk jaringan organisasi. Semua harapan ada pada tangan kita, pada kekuatan rakyat, pada gerakan partai dan kekuasaan The Ultimate Reality.
Kita akan jadikan diri kita revolusioner. Kita akan jadikan diri kita sebagai individu yang memiliki tekad untuk menguasai dunia agar masyarakat yang ada di dalamnya mau diatur oleh aturan yang pernah mengatur dan memimpin dunia selama 13 abad. Mari bergerak saat ini juga.
Hey, man. We are not in the least bit afraid of ruins. We carry a new world, here in our brains and hearts. And the world is growing this minute
Salam Anti kekerasan
Salam Revolusi Pemikiran
Salam Kebangkitan Rakyat
Bandung, 17 Maret 2003 (setelah deklarasi perang AS diberitakan)
pengkhianatyangtelahmusnah
1) Berhubung tidak begitu saja negeri-negeri tersebut sepakat dengan ajakan para kapital, maka diperlukan strategi jitu agar mereka --negara dunia ketiga—mau dijadikan sapi perah kolonialis. Maka cara yang mereka untuk menguasai dunia yaitu dengan mengupayakan globalisasi agar pola pikir, perasaan dan perbuatan masyarakat sesuai dengan kapitalisme sehingga masyarakat akan mendukung secara tidak langsung derivat dari ide kapitalisme itu sendiri.
Keberpihakan kapitalisme hanya pada para pemilik modal. Faktanya para pemilik modal adalah mereka yang tergolong ke dalam komunitas negeri-negeri utara (baca; AS dan konco-koncone). Sedangkan dunia ketiga atau negeri-negeri selatan hanya berjaya pada kelebihan faktor produksinya saja kecuali modal. Hal ini terus berulang semenjak lahirnya kapitalisme hingga sekarang. Sejak keluarnya buku “wealth of Nation” hingga berangsur-angsur menuju Keynesian, Neo Kalsik, sampai Reinveting Government-nya Anthony Giddens, semua ide tersebut tetap tidak bergeming dari pemikiran awal kapitalisme.
Penciptaan hutang di setiap sudut-sudut negeri dengan bunga yang tinggi, intervensi melalui badan-badan boneka, penempatan penguasa-penguasa yang juga agen-agen mereka, pembuatan senjata serta diciptakannya peperangan agar senjata mereka laku, hingga dibuatnya stereotyping terhadap rival ideologis nerupakan hal lumrah yang menjadi sifat dasar sistem kapitalis.
Kalaulah jeli melihat, bahwasannya perang Afghanistan kemarin, Perang Teluk jilid III (nampaknya jadi) dengan naiknya harga-harga barang di Indonesia sebenarnya memiliki benang merah apabila dihubungkan dengan kapitalis yang mempunyai kepentingan akan ketiga hal tersebut.
2) Perjuangan melalui sistempun sama harus dihindari. Justru hal ini sama saja dengan menceburkan diri pada penggorengan ketika ingin memadamkan api yang dimasak oleh penguasa. Tentulah penguasa tidak akan tinggal diam, diamankanlah mereka yang menceburkan diri.Pilihan memasuki parlemen tidaklah ideologis dan tidak pula strategis –karena ideologi mempunyai strategi sebagai implikasi dari kesempurnaan ideologi yang diemban. Perjuangan di dalam parlemen dan sistem selalu gagal merevolusi (FIS di Aljazair yang telah memenangkan pemilu : dibatakan kemenangannya. Rage Against The Machine yang bergulir ke label mayor yang dikuasai kapital justru diekploitasi etc)
3) Penghacuran private property seperti yang dilakukan gerakan Black Block di AS dan beberapa kolektif di luar negeri justru membuat masyarakat antipati dan menjadikan gerakan ini dijatuhi delik pidana. Tindak kekerasan yang dilakukan gerakan Islam di luar negeripun kurang mendapat simpatik masyarakat sehingga aksi-aksi yang dilakukannya digolongkan sebagai aksi terorisme.
4) Dalih sebagai “media netral atau objektif” itu merupakan politik dagang sapi yang essensi sebenarnya adalah : mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya. Kini saatnya setiap individu membangun gerakan-gerakan resistensi dengan cara membangun media-media DIY (Do It Yourself) --tidak perlu semewah dan setebal media-media kapitalis yang beredar-- namun cukup dengan stensilan, (beberapa lembar pun tak apa) yang dapat dijalankan hanya dengan fasilitas seadanya.Cukuplah 3-5 orang membuat satu media. Bayangkan apabila suatu gerakan mempunyai 10.000 anggota dan 5 dari mereka membuat satu media! Sekitar 2.000 media akan diciptakannya. Anggaplah semua media stensilan dikalikan 100/edisi, jumlahnya menjadi 200.000 edisi. Satu edisi anggap 10 lembar jadi total 2.000.000 lembar. Jumlah sebanyak ini, cukup untuk menutup opini kapitalis di kota Bandung.